Sekilas tentang pengabdian January 7, 2009
Posted by khfauzi in Keseharian.Tags: cerita
trackback
Tidak terasa empat tahun sudah kami jalani mengabdi untuk negara di ujungnya pulau sumatera. Suka duka, jungkir balik mengerjakan tugas yg seabrek-abrek, kita kerjakan dengan kekompakan tim yg hanya berjumlah 20 orang. Dari awal mula pertengahan 2005 yg hanya digawangi oleh 5 orang, dan pada akhir tahun 2005 bertambah menjadi 13 orang, karena tuntutan volume pekerjaan yang semakin meningkat, maka pada pertengahan 2006 komplit sudah jumlah kami menjadi 20 orang.
Pada setiap penghujung tahun, kerjaan selalu numpuk bagai gunung, yang menuntut kita untuk pulang dini hari, dan masuk seperti hari kerja biasa di pagi berikutnya. Dilema memang, satu sisi menjalankan profesionalitas kerja atas beban kerjaan yang harus terselesaikan sebelum due date, tapi di sisi lain keluarga yang selalu memberi support kita tiap harinya, mendapatkan perhatian yang kurang, karena sebagian besar waktu dihabiskan di kantor. Adilkah semua ini? Reward apa yg di dapat atas semua yg sudah kami lakukan selama ini?. Kalau kita hitung-hitung semua yang suda
h kami korbankan, entah itu waktu, tenaga, dan materi mungkin itu semua tidak adil. Kalau kita mengharapkan reward dari negara, itu juga mungkin hanya mimpi, yang kami harapkan hanya reward dari Nya. Alhamdulillah pada tahun 2006 s.d. 2007 kita berhasil mendapatkan penghargaan Piala pelayanan Prima dari presiden SBY, yang cukup menjadi kebanggan kita.
Wilayah kerja yg luas meliputi NAD-Nias tidak menjadi kendala bagi kami, dengan adanya sarana IT yg cukup memadai, sehingga kerja dengan system online pun dapat terlaksana. Dengan pusat komando di Banda Aceh, kami mempunyai 3 remote office yang berada di Pulau Nias-Sumatera Utara, Meulaboh-Aceh Barat, dan Lhokseumawe- Aceh Utara. Dari tiap-tiap remote office, ditugaskan masing2 1 sampai 2 orang untuk berjaga yang secara periodik di rolling tiap 2 minggu sekali.
Nias
Salah satu kantor filial kami berlokasi di kota gunung sitoli, pulau nias, sumatera utara.
Perjalanan ke pulau nias dapat ditempuh dengan jalur darat dari medan dengan terlebih dahulu menuju kota sibolga ditempuh dengan waktu 12 jam, dan menyeberang menggunakan ferry selama 12 jam perjalanan juga untuk mencapai pelabuhan gunung sitoli. Biasa jalur yang kita gunakan menggunakan pesawat kecil dari medan dengan lama perjalanan 1 jam penerbangan. Ada beberapa alternatif pesawat yg bisa kita gunakan, ada yang hanya berpenumpang 12 orang dengan terbang rendah (orang mandi pun bisa keliatan dari atas), ada juga dengan fokker 50, atau pesawat punya UN yg di obyekin dan bayarnya pake dollar, tapi mahhhal..Sesampainya di bandara binaka Nias, dengan airport tax yang hanya 5 ribu perak, dengan fasilitas warung kopi (kaya angkringan di jogja) dan full asap rokok, kita akan disambut dengan tulisan ‘Yahoowuu” yg artinya selamat datang.
Pulau Nias merupakan sebuah pulau yang masih termasuk dalam wilayah sumatera utara, yang terbagi dalam 2 kabupaten, gunung sitoli dan nias selatan yg beribukota di teluk dalam. Kabupaten Nias selatan terkenal dengan Sorake Beach nya, yang konon katanya mempunyai tinggi gelombang terbesar nomor 2 setelah Hawaii, yang sangat cocok untuk surfing. Di nias tengah terdapat desa tertua di pulau nias, yang terkenal dengan budaya hombo batu (lompat batu) yang biasa nya dilaksanakan pada acara adat menjelang natal.
Gunung sitoli, sebuah kota kecil dengan lurus satu jalan utama kalau kita liat dari google map, yang pada awal2 tahun 2006 banyak sekali bangunan papan, karena roboh dengan adanya gempa pada awal tahun 2005. Untuk yang mempunyai hobi kuliner, disini harus lebih hati2, karena masih banyak dijual makanan B2 nya. Pokoknya klo ada tulisan arab di warungnya, kita bisa makan disitu bagi yg muslim..( lha tapi klo tulisan nya حينجير
Atau خمَر gimana hayo..? ). Disinilah kami sewa sebuah rumah kecil sederhana dengan belakang rumah berdindingkan tebing batu, yang kita jadikan sebuah kantor filial dalam pelayanan di wilayah nias. Rumah dengan 2 Km tidur, ruang tamu, dan dapur, yang mana ruang tamu kita sulap menjadi ruang kerja, dan malah mulai tahun 2008, kamar kita jadikan ruang kerja untuk memeriksa dokumen yang masuk, dengan rekan kerja tetap antri menunggu di ruang tamu. Dengan type orang yang keras (maklum orang pesisir), kita harus banyak2 sabar (ngelus dhodho) dalam menghadapi rekan kerja kita. Dengan system jemput bola dan hanya dengan 1 orang petugas pelayanan semacam ini, sudah menghemat biaya yg harusnya dikeluarkan para rekan kerja kita yang jumlahnya tentu tidak sedikit, apabila mereka mengajukan kerjaan langsung ke banda aceh.
Meulaboh
Meulaboh merupakan kota kelahiran pahlawan Teuku Umar, dengan posisi di pesisir pantai sebelah barat naggroe Aceh. Beberapa tahun lalu masih bisa ditempuh dengan menggunakan plane dari banda aceh dengan waktu tempuh hanya 35 menit saja, tapi akhir-akhir ini sudah tidak ada lagi route penerbangan ba
nda aceh-Meulaboh. Biasa kita tempuh dengan alternatif angkutan darat (travel L300) dengan waktu tempuh kurang lebih 8-10 jam, tergantung kondisi jalan (sering longsor di daerah hutan geumpang). Karena jalan pesisir barat, lewat calang masih rusak karena tsunami, maka route travel memutar melalui sigli – tangse – geumpang tutut – meulaboh. Pemandangan yang sangat bagus bisa kita nikmati di daerah tangse sebelum masuk geumpang, dengan sungai yag jernih di sisi kiri jalan, dengan latar belakang sawah yang membentang dan bukit dengan gradasi warna hijau yang sangat cantik. Ada juga jembatan yang dibuat masyarakat setempat untuk menyeberang sungai dengan hanya dua utas tambang, satu untuk pijakan dan satu lagi untuk pegangan, yang mana orang menyeberang dengan membawa beban. Lumayan juga jalan yang harus dilalui, apalagi kalo sudah masuk hutan di daerah geupang – tutut, ada sekitar 4 jam perjalanan yang benar-benar melalui tengah hutan, dengan blank spot, ga ada sinyal Hp sama sekali. Jalan yang hanya muat pas banget 2 mobil kalo berpapasan, dengan satu sisi ber dindingkan tebing batu, dan sisi lainnya berbataskan dengan jurang yang lumayan curam, dengan sungai mengalir di bawahnya. Keluar dari hutan geumpang, kita akan memasuki perkampungan dengan aroma “lembu“, yah memang perkampungan yang banyak sekali lembu berkeliaran dijalanan, serasa kita jalan di taman safari…he..he..he..
Kota Meulaboh merupakan kota kecil, mungkin seukuran kota kecamatan kecil di daerah jawa, yang terletak di jalur selatan NAD yang menghubungkan banda aceh – medan, melalui calang, subulussalam, tapaktuan, kutacane sampai akhirnya ke medan atau ke arah aceh singkil. Tidak jauh dari terminal Meulaboh, kami sewa sebuah ruko 3 lantai yang dijadikan sebagai kantor pelayanan filial. Dengan samping kanana dan kiri toko bangunan ataupun gudang stock untuk toko-toko yang ada di meulaboh. Di Meulaboh, tidak banyka rekan kerja yang harus dilayani, dengan daerah mencakup meulaboh, calang, nagan raya dan simeulu sinabang. Banyak kejadian yang cukup menjadi pengalaman yang pahit di sini, pernah ada intimidasi dari oknum warga yang mengaku dari organisasi tertentu, akan membakar kantor apabila tidak memberi sumbangan dengan jumlah nominal yang sudah ditentukan dan ketika kantor sedang kosong, pernah juga kemasukan pencuri yang mengambil beberapa perangkat kantor seperti laptop dll. Karena dinilai tidak efektif, maka pada pertengahan 2008, kami sudah tidak lagi mengirim petugas ke sana, dan para rekan kerja yang tidak seberapa itu, langsung berhubungan dengan kantor di banda aceh.
Lhokseumawe
Lhokseumawe adalah kota yang kaya akan gas bumi yang terletak di pantai utara nanggroe aceh Darussalam, dengan jarak tempuh jalur darat sekitar 5
sampai 6 jam perjalanan, melalui jalur utara (jalur utama) Banda Aceh – Medan. Lhokseumawe merupakan kota yang yang terletak di sebuah pulau yang dihubungkan dengan sebuah jembatan menyeberangi selat kecil dari jalur utama banda aceh-medan ke kota lhokseumawe. Banyak perusahaan lokal maupun asing yang beroperasi di kota ini, seperti Pupuk Iskandar Muda (PIM), Exxon mobil, Perusahaan Gas Arun, dll. Orang asing dan pendatang banyak yang tinggal sementara di kota ini, yang rata-rata bekerja di perusahaan-perusahaan tersebut sehingga membuat kota tersebut agak sedikit lebih maju di banding kota-kota lainnya di NAD. Dalam masa konflik kota ini termasuk paling rawan, sampai saat ini pun masih ada satu-dua kejadian konflik sisa-sisa dari sebelum adanya perjanjian perdamaian.
Di kota ini kami membuka sebuah kantor dengan sewa Ruko 3 lantai tidak jauh dari terminal, sebelum masuk kota Lhokseumawe. Wilayah kerja yang harus di layani mencakup, Aceh Utara,Lhokseumawe, Bireun, Aceh Tengah, takengon, dan Aceh timur Langsa. Volume pekerjaan disini lumayan banyak hampir sebanding dengan filial Nias dan agak sedikit susah untuk meng explain tentang kerjaan ke rekan kerja. Banyak kejadian menarik di filail ini, ada teman yang bertugas mendapat terror dengan pelemparan bom molotov dari oknum warga pada jam 1 dini hari di lantai 2 kantor. Ada juga terror yang bikin geli kalo inget, di beberapa minggu berikutnya seorang teman juga mendapatkan terror dengan ditemukannya bom organik (maaf, kotoran manusia) yang berserakan di depan pintu kantor pada pagi hari saat buka kantor. Filial ini masih exist sampai akhir tahun 2008 kemaren.
Tiga minggu menjelang akhir tahun 2008, hari-hari terasa berat dengan beban pekerjaan yang booming sampai ribuan berkas yang harus terselesaikan sebelum due date yang sudah ditentukan. Selama tiga minggu pula, kerja sampai jam 4 pagi, dan masuk jam 8 di pagi hari berikutnya. Alhamdulillah semua sudah bisa terselesaikan, even ada beberapa yg terpaksa tidak bisa terproses, karena progress yang belum memenuhi, ataupaun kesalahan yang sangat prinsipil. Dari dana rekonstruksi sebesar 19 triliyun lebih sudah terserap hampir 78.6 %, yg mungkin menurut badan yg berkompeten dianggap cukup berhasil.
Awal 2009 sudah mulai kita masuki, Pekerjaaan penyelesaian administrasi dan Asset sudah menanti untuk segera diselesaikan, dan menunggu instruksi untuk untuk penyelesaian sisa dana yang belum terserap hingga semuanya benar-benar selesai 100%. Sampai kapankah kami tetap disini? Kemanakah kita setelah dari sini? Itulah yang sering menjadi pertanyaan teman-teman disini. Sampai kapan dan dimanakah kita selanjutnya, itu hanya Allah lah yang tahu, semoga semua yang kita kerjakan selalu mendapatkan Ridho nya, dan yakinlah bahwa dimanapun kita itu lah merupakan hal yang terbaik yang diberikan Nya untuk kita, amiin..




















Asslm.Wr.Wb.
Tetap Semangat!! Semangat gawe, semangat kuliah, juga semangat nulis.. Pokoknya tetap semangat aja!! Biar reward dari-Nya nti terasa sangat indah, amin…
@it’s me
wasslm. Wr Wb.
makasih ya support nya, iya tetep semangat….seperti kata mbah marijan..roso…roso…hehehe..
Waaaa… mau aku kesitu
Tapi dalam rangka jalan – jalan ya, bukan dalam rangka penempatan. Hehehe…..
percayalah, pengalaman kita atas pengenalan berbagai daerah yang berbeda di dunia ini, tanpa disadari ternyata dapat memberi nilai lebih dalam karakter kehidupan kita lho……
Mungkin itu cara Alloh untuk memberi nilai lebih pada kita, tanpa kita sadari sepenuhnya
@beruangqutub
Setuju, dimanapun kita ditempatkan adalah yang terbaik buat kita, yang telah Alloh berikan dengan segudang reason yang belum kita sadari.
Iyo kapan ksini ?, ditunggu kedatangannya.. belum bisa ke Makkah, mampir serambinya dulu ga ada salahnya..hehehe..